Tingkatkan Keterampilan dalam Proses Identifikasi, Polda Bali Gelar Pelatihan DVI

Polda Bali – Identifikasi menjadi satu hal yang wajib untuk dilakukan terhadap korban bencana. Keakuratan dan ketepatan atas hasil dari proses identifikasi menjadi mutlak. Untuk itu, diperlukan tenaga-tenaga yang profesional dan terampil dalam melakukan proses identifikasi, sehingga kesalahan ataupun kekeliruan dalam proses identifikasi dapat ditiadakan.

Menyikapi hal tersebut, Polda Bali menggelar pelatihan DVI (Disaster Victim Identification). Tema yang diusung dalam pelatihan ini yaitu “Dengan Pelatihan DVI yang Berkelanjutan Meningkatkan Kemampuan yang Profesional, Modern dan Terpercaya Tim DVI Provinsi Bali untuk Mendukung Kegiatan Berskala Nasional, Regional dan Internasional di Bali”.

Pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari yaitu tanggal 13-14 September 2018 dengan melibatkan peserta dari Inafis Ditreskrimum Polda Bali, Satuan Brimob, Direktorat Sabhara, Lab Forensik, Kedokteran Forensik RSUP Sanglah dan Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Tidak hanya itu, BPBD, Dinas Damkar Kota Denpasar, Pramuka Peduli Bencana, unsur kesehatan TNI, Basarnas dan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) juga turut dilibatkan.

Dalam pelatihan kali ini, panitia penyelenggara mendatangkan instruktur atau narasumber dari Pusdokkes Polri. Materi yang diberikan yaitu DVI Overview, DVI Organization and Mengerment, The Scene Overview, Scene Searching and Geidding, Bencana Kimia – Biologi – Radiasi (KBR), Post Mortem Overview, Ante Mortem Management dan Rekonsiliasi. Usai mendapatkan materi di hari pertama, pada hari kedua para peserta akan melaksanakan latihan simulasi di pantai Padang Galak, Sanur.

Wakapolda Bali Brigjen Pol. Drs. I Wayan Sunartha mengatakan, identifikasi dalam hal ini proses DVI sangat penting dilakukan untuk dapat memastikan identitas dari masing-masing korban. Mengingat ini terkait dengan aspek hak asasi manusia, pemastian kematian seseorang secara resmi dan yuridis, kepentingan administrative, kepentingan klaim dalam hukum perdata atau pidana, klaim asuransi dan sebagai awal dari proses penyidikan.

“Setiap fase dalam DVI tentunya mengacu pada standar Interpol mulai dari fase olah TKP, post mortem, ante mortem hingga fase rekonsiliasi. Semua tahapan atau fase tersebut antara yang satu dengan lainnya saling terkait, sehingga proses identifikasi korban dapat terlaksana dengan baik,” ungkap Brigjen Pol. Drs. I Wayan Sunartha, saat membuka pelatihan DVI di Gedung Rupatama Polda Bali, Kamis (13/9/2018).

Lebih lanjut, jenderal bintang satu di pundak ini menyampaikan bahwa dalam proses identifikasi korban massal, diperlukan tim dan prosedur kerja ilmiah yang didukung fasilitas kerja yang memadai dan kerjasama tim yang solid, agar bisa dipastikan prosesnya benar dan hasilnya valid dan reliable. Untuk itu, diperlukan tenaga-tenaga yang profesional dan terampil dalam proses identifikasi.

“Saya berharap kepada seluruh peserta untuk bersungguh-sungguh mengikuti pelatihan, sehingga mampu menyerap setiap materi yang disampaikan dan pada akhirnya mampu mengaplikasikan pengetahun yang dimiliki pada situasi yang nyata di lapangan,” pungkas Brigjen Pol. Drs. I Wayan Sunartha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *