Sidang The 2nd World Parliamentary Forum On Sustainable Development Diselenggarakan di Hotel Patra Bali

Polda Bali – The 2nd World  Parliament Forum On Sustainable Development ( WPFSD ) kembali  diselenggarakan di Bali pada 12-13 September 2018 ini diikuti sekitar 45 negara,Rabu, 12/9/2018. Ke 45 negara yang hadir antara lain Argentina, Bahrain, Bolivia, Iran, Iraq, Jordan, Palestina, Peru, Serbia, Uni Emirat Arab, Venezuela, Kribati, Solomon Island, Tonga, Armenia, Botswana, Egypt, Ghana, Madagaskar, Micronesia, Mongolia, Moroco, Serbia, Timor Leste serta Turki, yang dalam  Pertemuan WPFSD ini membahas topik  “Menuju Energi Berkelanjutan untuka Semua”.

Ketua Komite Kerja sama antar Parlemen Dr. Nurhayati Ali Assegaf dalam sambutannya menyampaikan, dengan digelarnya forum ini, dapat mewujudkan agenda 2030. Dimana tema utama dari pertemuan ini adalah kami hari ini mencerminkan semakin berkembangnya pengakuan akan kebutuhan global akan sumber energi bersih dan terbarukan.

Disamping itu, pertemuan ini membahas aksi parlemen kedepan untuk memastikan penggunaan energi ramah lingkungan berkelanjutan dan benar-benar dilaksanakan.

Di lain kesempatan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo ( Bamsoet ) dalam sambutannya menjelaskan bahwa, forum ini mendorong parlemen dunia untuk meningkatkan kerja sama lintas sektor serta melakukan inovasi pada keuangan, teknologi, infrastruktur dan kemitraan untuk memastikan semua orang memiliki akses ke energi berkelanjutan. Akses ke energi bersih, aman dan terjangkau, dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Ketersediaan energi seperti listrik sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sekaligus menjadi kebutuhan mutlak menunjang pembangunan. Namun, hal ini menjadi tantangan besar bagi kita mengingat ketergantungan pada energi fosil dan pengembangan sumber energi terbarukan masih sangat terbatas,” kata Bamsoet, sapaan akrabnya, saat membuka The 2nd World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPFSD) di Bali.

Selain itu, ikut serta 5 negara observer, yaitu Belarus, China, Nigeria, Papua New Guinea, dan Qatar. Tak ketinggalan, organisasi internasional serta pemerintahan juga turut hadir. Antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), Ernst & Young, Geneva Council for International Affairs and Development (GCIAD), United Nations Environment Programme (UNEP), Westminster Foundation for Democracy (WFD) dan Women Political Leader Global Forum (WPL).

“Penetapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) dan Paris Agreement mengenai perubahan iklim di tahun 2015 lalu, telah mengidentifikasi energi sebagai salah satu sektor utama bagi pencapaian pembangunan berkelanjutan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah menetapkan tahun 2030 sebagai target waktu untuk memastikan akses ke energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan dan modern bagi semua,” jelas Bamsoet.

No Responses

Write a response

%d bloggers like this: